Lon3ly M4N
Kamis, 18 April 2013
DPRD Legalkan 7 Ranperda Natuna
MN.Natuna – Sebanyak
7 Rancangan Peraturan daerah (Ranperda) resmi dilegalkan menjadi Peraturan
daerah, yang digelar sejalan dengan agenda penyampaian pidato Laporan Keterangan
Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Natuna Tahun Anggaran 2012 dan laporan
pendapat akhir fraksi tentang Ranperda, belum lama ini.
Dalam agenda
tersebut, Ketua DPRD Natuna Hadi Chandra selaku pimpinan rapat, beserta sejumlah
fraksi yang menyampaikan pandangannya menyepakati, untuk mendesak melegalkan beberapa
ranperda ini, untuk menjadi Perda seperti, Ranperda tentang izin gangguan (Ho) (Hinderordonnantie),
pedoman Izin Mendirikan Bangunan (IMB), stok Sekretariat Korps Pegawai Negeri
Sipil Republik Indonesia Kabupaten Natuna.
Ditambah lagi,
Ranperda tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah, Retribusi Daerah,
pedoman pengelolaan sarang burung walet dan penyelenggaraan menara
telekomunikasi.
Mewakili Fraksi
Golkar Plus yang disampaikan, sekertaris fraksi Welmi menekankan, kepada
pemerintah agar dapat memberikan kesadaran atau pemahaman kepada masyarakat
terhadap pentingnya, memperoleh peraturan daerah mulai dari izin gangguan, izin
IMB hingga pembinaan jiwa korps PNS dalam membangun sikap, tingkah laku, etos
kerja seta perbuatan terpuji.
Fraksi Golkar plus
juga mengharapkan, kepada pemegang kekuasaan pada pengelolaan keuangan daerah
dalam hal ini Bupati, agar dapat mengelola serta mengawasi keuangan dengan
sebaik-baiknya, guna terciptanya pembangunan Natuna yang sejahtera, merata dan
seimbang.
Laporan pendapat
akhir yang disampaikan oleh beberapa fraksi, pada intinya dapat menerima dan
menyetujui rancangan peraturan daerah untuk disahkan menjadi Peraturan Daerah
Kabupaten Natuna.
Kegiatan ini dihadiri
Bupati Natuna Drs H.Ilyas Sabli M.si, Wakil Bupati Natuna Imalko Ismail S.Sos,
Ketua DPRD Hadi Chandra S.Sos, Wakil Ketua I DPRD Daeng Amhar SE, beserta
jajaran anggota dan Unsur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).(Hermann).
Samsurizon : Pemkab Bisa Berhemat
MN.Natuna
– Anggaran bernilai
milyaran rupiah, setiap tahunnya harus terus mengalir dari Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah (APBD) Natuna, untuk mensubsidi kontrak jual beli daya listrik
dari pihak ketiga melalui Perusahaan daerah (perusda), demi terjadinya
pemerataan pelayanan masyarakat terhadap kebutuhan jaringan listrik.
Saat ini, basis subsidi listrik
di ibukota kabupaten sudah dihentikan, namun masih ada beberapa kecamatan yang dialiri
milik pihak ketiga (PT Tiga Bintang-red) asal Surabaya ini seperti Kecamatan
Pulau Tiga, Serasan, Subi dan Midai.
Setelah dilakukan perundingan
dengan pihak PLN setempat, akhirnya lembaga legislatif dan eksekutif di Natuna,
sepakat untuk mengambil sikap dengan menyerahkan urusan pelayanan listrik
sepenuhnya kepada pihak PLN, dengan mekanismenya, pemerintah daerah mengadakan
unit baru mesin pembangkit listrik yang diserahkan secara hibah kepada PLN.
Mulai dari pengoperasian, bahan
bakar hingga perawatan mesin nantinya, bakal ditanggung sepenuhnya oleh pihak
PLN, sebagaimana layaknya menjadi milik mereka sepenuhnya, ketimbang yang
terjadi dualisme pelayanan listrik selama ini, antara PLN dengan Perusda,
kenyataannya masih terjadi ketidak singkronan jaringan listrik kerap mengalami
“byar pet”.
Menanggapi hal tersebut, Sekda
Natuna Samsurizon SH M.si membenarkan, dengan adanya pengadaan unit mesin
pembangkit listrik oleh Pemkab Natuna yang kemudian diserahkan kepada pihak
PLN, ini sedikitnya mengurangi resiko kebocoran anggaran daerah setiap tahunnya,
yang dikeluarkan untuk subsidi jual beli daya listrik mencapai milyaran rupiah.
“
Biarpun besar anggaran untuk pengadaan mesin pembangkit listrik kondisi baru,
tapi hanya dilakukan sekali saja, ketimbang sistem yang dilakukan saat ini,
pemerintah harus merogoh kocek milyaran rupiah setiap tahunnya demi pelayanan
listrik dengan konsep jual beli daya.”
Menurutnya, membahas masalah
listrik di daerah ini sudah terlalu pahit, pasalnya angan-angan untuk
mewujudkan Natuna terang-benderang sejak tiga tahun silam, hanya menjadi mimpi,
apalagi setelah pihak rekanan PT Tiga Bintang gagal menyelesaikan rakitan mega
mesin pembangkit yang ditempatkan di Pring Bandarsyah.
“Jangankan
sampai tahap runing test, perakitan komponen mesinnya saja belum rampung,
bahkan terbengkalai untuk sekian lama, karena minimnya tenaga teknisi dari
pihak terkait.”
Informasi yang dihimpun koran
ini, kinerja PT Tiga Bintang dalam upaya menghalalkan suplai daya listrik dari
mesin miliknya, tak jarang harus merayu dan berhutang stok bahan bakar solar
dalam jumlah banyak dengan pihak PLN setempat.
Namun demikian, dengan dicabutnya
pengelolaan listrik perusda, bukan berarti pemkab dan legislatif setempat,
tidak mempercayai BUMD ini bekerja mengurusi pelayanan listrik, karena
kedepannya badan ini harus lebih sigap menjalankan kebijakan atas program
pemerintah disektor lainnya.(Hermann).
· “Banjir” Job Pembangunan Pelabuhan
Dishub Natuna Usulkan Rambu Layar Malam
MN.Natuna –
Sarana bantu navigasi untuk keselamatan berlayar di perairan Natuna masih sangat
minim, pengadaan dari sejumlah unit yang pernah dilakukan pemerintah setempat,
kondisinya selain rusak karena usia pemakaian serta perubahan cuaca, sebagian
lagi hilang akibat ulah oknum tak
bertanggungjawab.
Rambu
pelayaran merupakan penunjuk alur dan jalur lintas yang digunakan aktifitas kapal
berbadan besar maupun kapal nelayan tradisional pada siang dan malam hari. Tak
ubah seperti rambu lalulintas, jika diikuti sesuai aturan rambu, hal ini
membantu para pengguna jalur pelayaran untuk menghindari bahaya kecelakaan
seperti, kandas menabrak karang atau bertabrakan dengan antar kapal.
Warga
Ranai Darat Junaidi, Rudi, Wahyuda kepada MN membenarkan kondisi tersebut,
menurut ketiga warga yang kerap melaut ini mengaku, aktifitas melaut yang
terjadi pada malam hari, sangat rentan bahaya kecelakaan, tidak hanya
diperairan laut dalam, disekitar alur pesisir pantai juga belum ada rambu malam
yang memiliki lampu atau pantulan cahaya scothlight jika disoroti lampu.
Sehingga
ini menjadi kendala yang cukup mengganggu aktifitas masyarakat yang hendak
melaut, karena masih banyak kapal tradisional tempatan yang tidak semua
dilengkapi dengan alat navigasi canggih seperti, GPS (Global Positioning System) atau sejenisnya.
Hal
ini hendaknya menjadi perhatian ekstra bagi dinas terkait terhadap, pentingnya
keselamatan berlayar, terutama pada malam hari, karenanya pengadaan serta
operasional tahap perawatan secara berkala, harus menjadi skala prioritas bagi
dinas perhubungan dalam rangka memberikan dukungan pelayanan.
Masyarakat kepulauan dominan, mengandalkan mediator transportasi
penyeberangan antar pulau kecamatan, dengan menggunakan kapal tradisional yang
terbuat dari kayu, tanpa mengenal waktu siang dan malam hari, tak jarang harus
ditempuh demi tuntutan hidup dan peningkatan ekonomi masyarakat tempatan.
Geografis
Natuna sebagai daerah kepulauan, mencakup 97 persennya terdiri dari perairan, tak
heran acap kali masyarakat yang memiliki keterbatasan latar belakang akademis,
menjadi seorang generasi nelayan sebagai pilihan terakhir, karena tidak adanya
pengalaman dan keahlian lainnya. Seuah alasan objektif jika pemerintah juga
mengimbangi pembangunan serta pelayanan masyarakat, tidak hanya di sektor darat
saja.
Menanggapi
hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Pos Telekomunikasi dan Informatika Wan
Siswandi S.Sos Msi di ruang kerjanya menyebutkan, usulan terhadap pengadaan dan
pembangunan rambu pelayaran sudah dijadikan program prioritas dinas ini, namun
usulan atas kebutuhan anggaran ini belum terealisasi.
Dalam
hal pendataan, tim dinas ini telah melakukan inventarisir titik vital navigasi
yang dianggap perlu untuk dilakukan penambahan rambu pelayaran, baik untuk
siang maupun malam hari seperti, Penagi- Pulau Tiga, Pulau Tiga- Binjai, Binjai
- Sedanau dan Sedanau - Kelarik, Kelarik - Pulau Laut, Serasan dan Subi.
Menurut
Wan Siswandi, anggaran yang diperlukan untuk membangun rambu pelayaran malam di
perairan Natuna menelan Rp 2 miliar lebih, tahun 2013 ini merupakan tahun kedua
kalinya dinas perhubungan mengusulkan kepada pemkab Natuna dan lembaga
legislatif atas kebutuhan pembangunan rambu ini, namun kebijakan pemerintah mempunyai
pertimbangan prioritas terhadap sektor lainnya.
“Ada beberapa hal yang
memang tidak bisa dipisahkan, kapal sebagai armada transportasi, pelabuhan dan rambu laut, rambu itu memang
pasti yang paling vital, dari dinas ini sudah memprogramkan pengajuan tersebut
.”
Pembangunan
mega proyek pelabuhan bernilai milyaran rupiah ini, merupakan kegiatan sharing
antara kabupaten, tingkat provinsi dan pusat, pemerintah daerah setempat hanya
diberikan jatah untuk mengakomodir anggaran pembebasan lahan, study kelayakan
dan DED (Detailed
Engineering Design).
Selain
pelabuhan tersebut, pemkab Natuna dan Pemprov Kepri sharing anggaran untuk
meningkatkan pembangunan pelabuhan Perhubungan Penagi dengan menambah volume
panjang sekitar 100 meter menjorok ke laut dengan desain huruf U, tahun ini
dianggarkan dari Anggaran Pndapatan Belanja Daerah (APBD) Natuna sebesar Rp 7
milyar untuk DEDnya, sedangkan kebutuhan pembangunan fisik ditanggung Provinsi
dengan anggaran mencapai Rp20 milyar.
Pasca
rampungnya penegerjaan tersebut, bakal menyusul pembangunan Pelabuhan armada
kapal Roro (Roll on Roll Off) di
sekitar Selat Lampa dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) tahun 2014
mendatang dengan pagu anggaran sekitar Rp 25 milyar, tahun ini tim survey dari Angkutan
Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) dan kementrian perhubungan laut
melakukan peninjauan, diatas lahan seluas 1 hektar yang dibebaskan Pemkab
Natuna, bakal dilakukan perubahan “view
desain” yang dikonsep tahun 2004 lalu.
Ditambah
lagi pembangunan pelabuhan Samudera, sebagai akses dermaga internasional, untuk
konstruksi fisik kegiatan ini menelan anggaran dari tingkat pusat dan provinsi sekitar
Rp200 milyar lebih, selain DED, study kelayakan, pemkab Natuna juga menanggung
pembangunan akses jalan penghubung ke Desa Teluk Buton Kecamatan Bunguran Utara
yang saat ini tengah dirintis Dinas Pekerjaan Umum (PU) setempat.
Agar
terjadi pemerataan, percepatan pembangunan serta multi player efek terhadap
peningkatan ekonomi masyarakat tempatan, pembangunan Pelabuhan samudera ditunjuk
di Desa Teluk Buton kecamatan Bunguran Utara, mengingat, mulai dari pelabuhan
bongkar muat Depot Pertamina, Pelabuhan Perikanan Terpadu dan Pelabuhan kapal
Roro sudah terpusat di Selat Lampa juga di Kecamatan Pulau Tiga sudah terpusat menumpuk.
Selain
pembangunan pelabuhan besar luncuran tahun anggaran 2013-2014 ini, Dinas
Perhubungan setempat akan tetap melanjutkan tahap pengerjaan pelabuhan
pendukung di beberapa titik diantaranya, Desa Sumedang Kecamatan Bunguran Barat,
Desa Air Putih Kecamatan Midai dan Desa Air Kumpai di Kecamatan Serasan.(Hermann).
Jumat, 29 Maret 2013
Ilyas Siap Jadi Kades Di Serasan
MN.Natuna
– Bupati
Natuna Drs H.Ilyas Sabli M.si mengaku siap untuk menjadi kepala desa di
Kecamatan Serasan, ini menjadi pilihan alternatifnya untuk tetap bisa mengabdi
terhadap masyarakat, meskipun wilayah cakupannya jauh lebih kecil. Bahkan Ia
juga menerangkan menjadi seorang kades di Desa Genting adalah bagian dari cita-citanya.
Ungkapan yang
disampaikan dihadapan masyarakat desa Pangkalan ini, merupakan kata sambutan
dalam peresmian desa pemekaran baru, yang dimaksudkan jabatan kades ini sebagai
bentuk pengabdian sekaligus kecintaannya terhadap kampung kelahirannya ini,
sehingga hal ini dapat memberikan memotivasi warga untuk mandiri dan terus
mengembangkan diri dan potensi daerah ini, karena menurutnya, tempat ini
memiliki banyak potensi unggulan seperti sektor pertambangan, wisata dan
pertanian.
“Saya
siap untuk menjadi kades, di Desa Genting saya siap untuk mengabdi kepada masyarakat
di kampung halaman saya, jika memang saya sudah tidak dipercaya untuk memimpin
daerah (Kabupaten Natuna sebagai Bupati-red) ini .”
Kecamatan Serasan
juga merupakan satu dari beberapa daerah yang ada di Natuna, dengan pertumbuhan
ekonomi masyarakat cukup baik, hal ini dibuktikan dari kesungguhan pihak
perbankan yakni Bak Riau Kepri, untuk membuka cabang di Kecamatan Serasan, saat
ini mereka tengah, melakukan persiapan kelengkapan administrasi, setelah
rampung, dijadwalkan pada Bulan Mei mendatang, Gubernur Kepri bakal berkunjung
dan meresmikannya.
Desa pangkalan ini
punya potensi untuk maju, karenanya, masyarakat hendaknya jangan pesimis, banyak
pengusaha yang mnyimpa harta bendanya cuma simpan dibawah bantal.lebih baik
diinvetasikan di Bank nantinya, karena selain kadar bunga tabungan yang
menjanjikan, ini juga menjadi tabungan bagian dari masa depan.
Memang masih banyak
infrastrutur masih sangat minim, namun hal ini jangan dijadikan budaya malas
dan manja, hanya mengharapkan anggaran darii APBD, seperti menunggu buah jatuh
dari pohonnya, potensi wisata seperti Pantai Sisi jika dikelola melalui Peraturan
desa (Perdes), mampu mendongkrak Pendapat Asli Desa.
Dalam keterangan
singkatnya kepada MN, Ilyas bertekad untuk membangun kampung halamannya secara
optimal, salah satunya peningkatan infrastruktur jalan lingkar di Kecamatan
Serasan, pada tahun anggaran 2012 lalu, peningkatan dan penambahan volume lebar
jalan sudah dimulai, rencananya ini bakal direalisasikan secara bertahap,
mengingat Natuna memiliki keterbatasan dana, serta harus melaksanakan
pemerataan pembangunan di 12 kecamatan.
Dilakukannya
peningkatan jalan lingkar ini menjadi kebutuhan mendesak, karena hampir setiap
ruas jalan sudah mengalami kerusakan, ditambah lagi ekonomi serta kesejahteraan
penduduk kian membaik, sehingga aktifitas kendaraan bermotor terus bertambah,
baik jenis roda dua, tiga dan empat.(Hermann).
Listrik Serasan “Takut” Matahari
MN.Natuna
– Seperti
rotasi bulan dan matahari, mereka saling bergantian memberikan cahaya bumi,
begitu kiasan yang terjadi pada layanan jaringan listrik di Kecamatan Serasan,
hal ini diketahui setelah Bupati Natuna Drs H.Ilyas Sabli M.si beserta rombongan Satuan kerja Perangkat
Daerah (SKPD) dalam kunjungan kerjanya awal Maret lalu.
Saat siang hari,
aliran listrik dikecamatan ini mengalami pemadaman bergilir sebesar dua travo
atau sekitar 100 Kw, hal ini disebabkan adanya kerusakan komponen dan
keterbatasan daya mesin PLTD milik PLN setempat, sedangkan malam harinya
dilakukan operasi mesin PLTD PT Tiga Bintang yang dikelola melalui Perusahaan
Daerah (Perusda).
Sebagai Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD), Perusda diminta Bupati untuk meninjau serta mengurusi
permasalahan ini, mengingat, sistem jual beli daya listrik dengan pihak ketiga
yang disubsidi Pemkab, merupakan bentuk pelayanan masyarakat disejumlah
kecamatan yang belum tersentuh atau terakomodir jaringan listrik PLN seperti di
Kecamatan serasan, Subi, Kelarik dan Pulau Tiga.
Direktur Barang dan
Jasa Perusda Suparman menyebutkan, dalam waktu dekat ini, pihaknya akan
berkordinasi kepada operator mesin milik PT Tiga Bintang, guna merubah pola
sistem operasional mesin perusda pada malam hari, mengingat pada saat ini
merupakan beban puncak dimana pemakaian terbanyak digunakan pelanggan.
Sementara pada sistem
operasi mesin PLN akan dijalankan pada siang hari, saat ini jumlah pemakaian
beban puncak di Kecamatan Serasan sudah mencapai 500 Kw lebih, sedangkan mesin
PT Tiga Bintang hanya memiliki beban terpasang 450 Kw, karena itu, permasalahan
ini akan dilaporkannya kepada Bupati, dengan harapan pemerintah dapat
merealisasikan permohonan untuk menambah kekurangan subsidi daya menjadi 600
Kw.
Pada siang hari,
mesin PT Tiga Bintang tetap akan mendampingi operasi mesin PLN, ini dilakukan
untuk menghindari terjadinya short jaringan, karena keterbatasan daya,
“
Kami (Perusda-red) tidak mau selalu dikambing hitamkan, selalu dianggap tidak
bisa memberikan pelayanan listrik kepada masyarakat, setiap pemadaman,
masyarakat menyalahkan PLN, sementara PLN menyalahkan Perusda, karena itu,
dengan pertukaran pola nantinya, akan dirasakan masyarakat pelayanan pihak mana
yang kerap terkendala.”
Untuk aksesori
jaringan listrik di Kecamatan serasan ini, dinilai sudah mencukupi, karena
belum lama ini, pemkab juga menambah investasi komponen seperti travo sisip dan
travo induk untuk daerah ini, sehingga terjadinya pemadaman bergilir ini, murni
disebabkan keterbatasan daya mesin pembangkit listrik.(Hermann).
Keterangan Foto :
Direktur
barang dan jasa Perusda Suparman insert rumah mesin unit PLTD Tiga Bintang di Kecamatan
Serasan..........................................
Pemprov Siapkan 5 M Lebih Untuk
Jalan Pring
MN.Natuna – Jalan tembus sepanjang 4,2 kilo meter Penagi-
Pring Bandarsyah di Natuna, tahun 2013 ini bakal dilelang, kegiatan peningkatan
jalan lapis hotmix ini diprakarsai oleh Pemerintah Provinsi Kepri melalui dinas
Pekerjaan Umum (PU). Adapun untuk pembangunan jalan ini menelan anggaran
sekitar Rp 5 miliar lebih.
Hal
ini disampaikan Gubernur Kepri H.M Sani dalam kunjungannya belum lama ini,
menurutnya jalan tembus Pring, merupakan satu dari sekian banyak proyek untuk
Natuna yang digelontorkan tingkat provinsi, untuk kepentingan masyarakat dan
akses mobilitas pertumbuhan serta percepatan pembangunan.
Dalam pelaksanaannya,
pemerintah provinsi dan tingkat kabupaten, sepakat untuk melakukan sharing
anggaran kegiatan pembangunan jalan ini, sementara untuk pembangunan
jembatannya dibebankan oleh Kabupaten, kegiatan ini ditargetkan rampung dan
bisa digunakan pada tahun 2014 mendatang, karena jalan ini merupakan akses
penghubung barang dan jasa untuk masyarakat di Ibukota Kabupaten dari pelabuhan
Perhubungan Penagi.
Kepala Dinas PU
Natuna Drs.Minwardi menyebutkan, untuk pembangunan jembatan sungai Pring, akan
direalisasikan atas yang disepakati dengan Pemprov Kepri, namun demikian,
kegiatan pembangunan jembatan ini tidak dapat dilaksanakan pada tahun 2013
secara bersamaan dengan pengerjaan jalan, mengingat, akan menghambat aktifitas
alat berat dan angkutan bahan material.
Satu hal terpenting,
saat ini Pemkab Natuna melalui dinas PU tidak memiliki kebutuhan anggaran yang
dimaksud, karena belum dilakukan rancangan Detailed Engineering
Design (DED) maupun pengerjaan fisiknya, sehingga
akan dikerjakan pada tahun 2014 mendatang. Adapun tafsiran untuk pembangunan
ini memerlukan pagu dana sekitar Rp 2 miliar lebih.
Lebih jauh Minwardi
juga menyebutkan, selain pembangunan fisik dari Provinsi Kepri, pemerintah
pusat juga meluncurkan sujumlah proyek dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara
(APBN) Tahunn 2013 ini, yang mencapai total Rp136 miliar lebih diantaranya, peningkatan
dan pelebaran jalan Cemaga- Sungai Ulu sepanjang 7,5 kilo meter, pembangunan
hotmix 4 kilo meter, peningkatan overlay Ranai-Simpang Tanjung 2 kilo meter,
overlay simpang Tanjung - Tg Datuk 12 kilo meter, pembangunan jalan simpang Tanjung-
Tg Datuk 5 kilo meter, pembangunan jembatan Sei Mitan Rp10 miliar, jembatan Air
Maran Desa Pengadah Rp6,8 miliar, jembatan Sei Bemban Rp6,8 miliar, jembatan Air
Udang Desa Pengadah Rp3,3 miliar.
Sedangkan pemkab
Natuna tahun ini bakal melaksanakan pembukaan jalan Teluk Buton-Kelarik, sedangkan
Batubi-Tapau-Selat Lampa, sekarang suduah mulai dirintis pemprov Kepri membuka
jalan sepanjang 5 kilo meter dari Teluk Buton-Kelarik dengan anggaran sebesar
Rp 5 miliar, tahun 2012 lalu dilaksanakan pembukaan jalan dari Kelarik –Teluk
Buton yang menelan Rp 7 miliat, dengan total volume sepanjang 42 kilo meter.
Menyikapi maraknya
komentar masyarakat soal kualitas pengerjaan jalan hotmix di Natuna, Minwardi
menyebutkan, penyebabnya oleh pagu anggaran yang minim, sehingga hanya dilakukan
satu lapis, idealnya untuk menahan beban tonase kendaraan bermotor diatas 8
ton, konstruksi jalan hotmix harus dikerjakan dua lapis. Sehingga mulai tahun
ini, pola tersebut dalam pelelangan babkal dirubah spesifikasi volume kerjanya.
“
Lebih baik volumenya kecil, tapi kualitas pemakaian jauh lebih tahan, daripada
seperti yang sudah-sudah, nanti dinas PU yang bakal mengambil kebijakan untuk
merombak mekanismenya ditahun berjalan, karena yang kita lelang bukan pagu,”
Seperti proyek jalan
yang dikerjakan dari pemerintah pusat, mengingat selama ini dinas melakukan
pelelangan kegiatan berdasar survey tenaga konsultan perencanaan.(Hermann).
Keterangan foto wajah
: Kadis PU Kabupaten Natuna Drs
Minwardi...................................................
·
Terkait Sengketa Penguasaan Asrama Natuna
Limit Habis, Wabup KKA Minta Masa Tenggang
MN, Natuna – Wakil Bupati KKA Kabupaten Kepulauan Anambas
H.Abdul Hariz bakal mengambil tindakan persuasif melalui dinas pendidikan
setempat, upaya ini terkait adanya informasi bahwa mahasiswa asal KKA mulai
geriliya menduduki gedung kedua, asrama mahasiswa asal Natuna di Jakarta yang
merupakan aset Pemkab Natuna. Aset dua gedung mewah ini dibeli pemkab senilai
Rp 5 miliar dari tahun anggaran 2007.
Mengingat sebelumnya, mahasiswa asal KKA ini lebih dulu menghuni
seutuhnya gedung asrama mahasiswa putra asal Natuna beralamat di
jalan Tebet Timur Dalam II No.97 di
Jakarta, gedung berlantai dua dengan fasilitas 9 kamar tidur ini dicabut papan
plang nama kepemilikan Natuna, sedangkan asrama putrinya hanya memiliki 5 kamar
tidur sudah 50 persen dihuni KKA, beralamat
Jl Tebet Timur Dalam VIIIi No 6 Jakarta Selatan.
Disamping itu ijin pakai sementara pemerintah KKA terhadap penggunaan
aset pemkab Natuna ini, sudah habis limit, artinya sudah sepantasnya mereka
angkat kaki menyerahkan kepada pemiliknya. Namun menurut Haris, dirinya telah
mengajukan kompensasi waktu pemakaian, seiring proses pencarian gedung untuk
pengadaan asrama mahasiswa asal KKA di Jakarta.
Ini menyebabkan timbulnya ketidaknyamanan bagi mahasiswa asal Natuna yang
seharusnya, diprioritas menempati sebagai tuan rumah. Kenyataannya justru
mereka yang mengalah dan mencari tempat kost diluar asrama gratis yang sudah
difasilitasi oleh pihak pemerintahnya.
Sebab itu, ini menjadi masukan positif bagi pemerintah KKA, sebagai bahan
evaluasi, meskipun diluar daripada permasalahan ini, dirinya mengaku kecewa
atas isu tindak tanduk mahasiswa asal KKA yang menggunakan sejenis narkoba
didalam asrama. Karena menurutnya, ini menjadi masalah serius yang tidak
terpuji, bahkan tidak menghargai.
Kepada Haris, MN juga
menyampaikan bahwa banyak calon mahasiswa asal Natuna, yang hendak mendaftarkan
diri untuk menggunakan gedung asrama laki-laki di Jakarta, Namun, seorang
mahasiswa yang menghuni bangunan itu menolaknya.
“
Kamu tidak bisa lagi tinggal di asrama ini, karena ini adalah milik Kabupaten
Anambas, jadi mahasiswa asal Natuna tidak bisa menempati.” Jelasnya meniru
penolakan mahasiswa asal Anambas.
Dalam kunjungannya,
wakil bupati KKA Abdul Haris ke Natuna belum lama ini, juga mengomentari hal tersebut,
Ia mengatakan bahwa antara Natuna dengan Anambas adalah satu, hanya system
administrasi saja yang memisahkan, keduanya bagaikan anak dan ibu yang tidak
dapat dipisahkan.
Menurutnya, masalah
pemanfaatan gedung asrama mahasiswa di Jakarta maupun ditempat lain yang ada
diluar daerah kedua kabupaten, hendaknya bisa digunakan bersama-sama, tidak
boleh ada perbedaan dan saling membedakan satu sama lain, baik mahasiswa asal
Natuna begitu juga Anambas.
“
jangankan untuk meminta satu dari setiap bangunan asrama putra dan putri
mahasiswa yang ada diluar Natuna seperti, Pontianak (Kalbar), Pekanbaru,
Jogjakarta, Jakarta, Tanjungpinang dan Bandung, bantuan yang diberikan
kabupaten induk kepada KKA, sudah sangat disyukuri dan membantu.”.(Hermann).
Langganan:
Komentar (Atom)





